Sejarah/Profil

Sore yang Menentukan Karir Elly Idris

anakbola.net – Dalam #LegendTalk perdana kali ini mengangkat profil salah seorang legend Timnas Indonesia di era 1980-an, yakni Elly Idris. Coach Elly begitu ia biasa dipanggil anak-anak asuhnya di Pelita Jaya Soccer School, berkenan berbagi kisahnya kepada redaksi anakbola.net.

Sore yang Menentukan Karir Elly Idris

Dijumpai di Ngopi Bintaro (23/2) Pria kelahiran Namlea, Pulau Buru, Provinsi Maluku 57 tahun silam menuturkan jika kiprahnya di pentas sepakbola nasional tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ‘bapak angkat-nya”, dokter Zulkifli Hasan.

Visi yang dimiliki dokter Zul terhadap Elly sungguh luar biasa. Hanya melalui pandangan pertama ketika menyaksikan Elly bermain bola, membuat dokter berdarah Padang itu tertarik untuk memboyong Elly ke Jakarta.

Menurut Elly ketika itu, di suatu sore dokter Zul terpikat dengan gayanya memainkan si kulit bundar di lapangan. Dari pinggir lapangan bapak angkatnya yang sedang berdinas di Pulau Buru serta merta mencari tahu sosok Elly dari penonton lainnya.

Tak disangka sang dokter menemui ayah Elly untuk meminta izin membawa Elly ke Jakarta. Tujuannya tidak lain adalah untuk membina Elly Idris agar lebih berkembang, baik dari kemampuan bermain maupun karirnya sebagi pesepakbola.

“Malam harinya saya bertandang ke rumah beliau. Dokter Zul bertanya, apakah saya mau diajak ke Jakarta. Serta merta saya menjawab, siap”, kenang Elly.

Saat itu kira-kira di penghujung tahun 1979, tibalah hari yang direncanakan. Menumpang kapal yang diperuntukkan mengangkut tahanan politik (tapol), Nyong (pria muda) dari Namlea itu pun berangkat ke Jakarta.

Para tapol tersebut menurut Elly baru dibebaskan dari tempat pembuangan di Pulau Buru. Di kapal itu Elly merupakan satu-satunya penumpang yang berasal dari masyarakat setempat (bukan Tapol). Dirinya dapat berlayar berkat rekomendasi dari seorang jenderal yang Elly tidak ingat namanya.

Baca Juga:  Mengenal Sheffield FC, Klub Tertua di Dunia Versi FIFA

Selang seminggu mengarungi lautan, Elly muda menginjakkan kakinya di pelabuhan tanjung priok Jakarta. Dokter mengutus asisten rumah tangganya untuk menjemput.

Sejak saat itu Elly tinggal bersama keluarga dokter Zul di seputaran daerah Rawasari, Jakarta Timur.
Tanpa berlama-lama. Seminggu kemudian, asisten rumah tangga dokter Zul mengantar Elly untuk latihan di ragunan.

Beberapa bulan kemudian, rutinitas turun naik bis dari Rawasari ke Ragunan, begitupun sebaliknya dijalani oleh Elly dengan pantang menyerah.

“Setiap hari bisa naik bis ke Ragunan menyambung 3 kali jurusan, demikian pula ketika pulangnya”, tutur Elly.

Di Ragunan rupanya, Elly berlatih di Klub Jayakarta. Empat bulan kemudian dirinya dipanggil oleh Sutan Harhara. Sore itu, Sutan mengatakan jika Elly bermain bagus maka bisa bisa masuk mess untuk berlatih.

Hingga akhirnya, buah dari ketekunannya berlatih, Elly resmi menjadi pemain Jayakarta baik dari level junior hingga ke senior.

Elly sempat disertakan dalam kompetisi Galatama. Diantaranya dalam final yang mempertemukan Jayakarta melawan Niac Mitra, di Surabaya. Hasilnya tim Jayakarta berhak atas predikat runner up, kala itu.

Dalam karirnya, Elly Idris juga sempat dipanggil Liga Selection yang pada waktu itu dilatih Danurwindo. Bersama Liga Selection ia kembali berkesempatan melawan juara Galataman yakni Niac Mitra.

Ketika klub Jayakarta agak ‘goyang’ (mengalami krisis), banyak pemain seniornya ‘bedol desa’. Elly sendiri mengikuti ajakan Abdul Kadir untuk membentuk Yanita Utama, dengan homebase di Kota Hujan, Bogor.

Yanita Utama di era itu, diisi nama-nama besar yang pernah menjadi pemain Timnas Indonesia. Sebut saja Rudy Keltjes, Rully Nere, dan Bambang Nurdiansyah.

Di Yanita Utama, Elly Idris berkesempatan mempersembahkan juara Galatama selama dua musim. Termasuk ikut memperkuat Yanita Utama sebagai wakil Indonesia yang bertanding dalam Kejuaraan Antar Klub Asean I di Bangladesh (1984).

Karir Elly berlanjut, perjalanan hidup membawanya berlabuh ke klub Krama Yudha Tiga Berlian Palembang (KTB Palembang). Lagi-lagi Elly turut ambil bagian dari sejarah KTB Palembang. Tepatnya ketika berturut-turut selama dua musim KTB Palembang dinobatkan sebagai juara Kompetisi Galatama (1985 dan 1986).

Baca Juga:  Apa Kata Mereka #2: Berani Calonkan Diri Sebagai Ketum PSSI, Kurniawan Dwi Yulianto Layak Jadi Sekjen PSSI

Sebagai juara Galatama, KTB Palembang berhak mewakili Indonesia bertanding dalam gelaran Kejuaraan Klub Asia (saat ini dikenal dengan Liga Champions Asia). Babak final turnamen dihelat di Jeddah, Arab Saudi pada akhir 1986. Krama Yudha berhasil menempati posisi ketiga, setelah mengalahkan tim Suriah Al-Ittihad dengan skor 1-0 dalam turnamen tersebut.

Dari bumi Sriwijaya, Palembang di tahun yang sama Elly hijrah ke klub Galatama lainnya, yakni Pelita Jaya yang bermarkas di Sawangan, Depok. Selama satu dekade merumput di Pelita Jaya, Elly pun masih berkesempatan dua kali mencecap manisnya sebagai juara Galatama.

Masih di Pelita Jaya, bersama rekan-rekannya Elly berhasil menembus 4 besar Kejuaraan Antar Klub Asia.

Persita Tangerang, merupakan klub sepakbola profesional dimana Elly kemudian menggantung sepatunya. Di sini Beni Dolo sempat menunjuknya sebagai asisten pelatih.

Sedangkan karir di Tim Nasional Indonesia dilakoni Elly pada tahun 1985. “Tahun 1985 saya dipanggil ke Timnas” sambung Elly. Puncak pencapaiannya di Timnas antara lain menjadi juara sub grup Pra Piala Dunia zona Asia.

Namun karena hanya ada dua tiket untuk wakil Asia maka Indonesia gagal menembus putaran final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Indonesia hanya berhasil bertengger di posisi 4 setelah dipertandingan penentuan harus mengakui kemenangan Korea.

Selain diproyeksikan untuk bertanding di Piala Dunia, Elly dan kawan-kawan juga diharapkan bisa memperkuat Timnas Indonesia di ajang SEA Games di Singapura.

“Saya sempat ikut training camp di Brasil selama sebulan buat persiapan SEA Games”, ujarnya.

Semasa kecilnya, Elly Idris tidak pernah punya cita-cita sebagai pemain bola. Meskipun sudah ada lebih dahulu empat pemain dari Pulau Buru, satu diantaranya adalah Salim Alkatiri yang berkibar di level nasional. (BSD)

Baca Juga:  Direktur Teknik Pelita Jaya Soccer School Serahkan Piala Bergilir Koni Pusat Kepada Panitia Penyelenggara
Tampilkan Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker