Serba Serbi

Pemain Belia Tak Butuh Juara

anakbola.net Pelatih timnas Indonesia, Sin Tae-yong berkomentar, bahwa sederet pemain Indonesia masih banyak yang salah dalam melakukan teknik dasar sepak bola, baik itu passing, kontrol maupun dribbling bola.

Tentu kita miris mendengarnya, pemain sekelas Tim Nasional masih salah teknik dasar sepak bolanya. Sehingga wajar kita tak bisa berharap adanya prestasi dari bidang sepak bola.

Kesalahan-kesalahan mendasar dalam sepak bola sebelumnya juga pernah dilontarkan oleh Luis Milla, selama 2 tahun menjadi pelatih kepala tim nasional Indonesia.

Teknik dasar bermain bola, mestinya sudah diajarkan ketika pesepakbola masih berusia di bawah 14 tahun. Pada usia ini semua teknik dasar diberikan dan di praktik kan dengan benar. Kesalahan-kesalahan teknik dasar sepak bola di perbaiki ketika atlet berusia di bawah usia 14 tahun. Apa yang salah dengan pemain Indonesia?

Hampir semua anggota tim nasional Indonesia, semasa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di sekolah sepak bola (SSB) atau akademi sepak bola. Pada usia di bawah 14 tahun, para pemain ini di gembleng teknik dasar bermain bola.

Namun kenyataan nya, pemain usia di bawah 14 tahun, dipaksa untuk memiliki fisik yang kuat dan taktik bermain yang bagus. Kenapa demikian? Karena biasanya banyak pengelola sekolah sepak bola (SSB) salah orientasi dalam pembinaan.

Para pengelola SSB berpikir, juara adalah tujuan dari pembinaan. Sehingga ambisi untuk mengoleksi piala atau tropi menjadi target utama. Tak heran, banyak SSB “memaksa” anak-anak mengikuti porsi latihan fisik dan taktik guna mencapai juara.

Disorientasi pembinaan ini, berkelindan dengan ambisi orang tua anak yang menjadikan kesuksesan anaknya dari gelar juara, top skor atau pemain terbaik dalam turnamen-turnamen usia dini.

Baca Juga:  Apa Kata Mereka #5: Peduli Persepakbolaan Nasional, Fakhri Husaini Tokoh yang Pas Jabat Sekjen PSSI

Lebih miris lagi, untuk memenuhi hasrat dan ambisi juara dari pengelola SSB dan orang tua, tak jarang mereka menghalalkan cara-cara curang, misalnya nya saja melakukan pencurian usia, atau membawa pemain “cabutan” yang bukan hasil binaan sendiri.

Bahkan tak jarang sering terdengar ada uang beredar dalam mencapai ambisi juara. Beberapa kasus, SSB membawa pemain “cabutan” yang bukan binaan sendiri, dengan cara memberi sejumlah uang pada orang tua si anak. Atau mengeluarkan sejumlah uang untuk merubah dokumen pemain agar menjadi lebih muda (pencurian usia).

Padahal, pemain belia yang masih berusia di bawah 14 tahun tak membutuhkan gelar juara. Mereka ini membutuhkan teknik dasar bermain sepak bola yang benar.

Cara pembinaan dan disorientasi dalam pembinaan yang dilakukan oleh sekolah sepak bola dan orang tua inilah salah satu faktor utama yang membuat pesepakbola Indonesia ketika memasuki usia dewasa tidak mampu bersaing pada level yang tinggi.

Jangankan bersaing pada level Asia, pada kawasan Asia Tenggara saja, sepak bola kita mulai jauh tertinggal dari Thailand, bahkan Philipina yang notabene lebih dikenal sebagai rajanya Basket di Asia Tenggara.

Jika pola dan cara berpikir pembinaan pemain usia belia masih seperti sekarang, mungkin 5 atau 10 tahun lagi, sepak bola Timor Leste akan meninggalkan kita baik dalam level permainan maupun prestasi. Wallahualam…

Mahmuddin muslim
Penggiat Sepak Bola Usia Muda

Tampilkan Lainnya

Artikel Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker